Di sela-sela ketidakmampuanku mengikat cintamu, ada hamparan telaga nan sunyi
Langit pekat tak berkesudahan membuat jiwa ini meradang
Hingga patahan nafas yang tersumbat rindu tak lagi mampu terbendung
Izinkan sukmaku mencengkeram tiap baris lukis pada lekuk tubuhmu seraya melirih pedih
Saat kupu-kupu putih itu terus berisyarat penuh rahasia dan kita ditakdirkan memaknainya semampu kita
Semenjak matahari menulis harap tentang pertemuan kita
Bahasa rumput ilalang yang menjelma pelik, menelikung pada dasar jiwa
Aku hanya ingin mengurai wajahmu yang selalu cemas ketika jiwa kita berpapasan, yang selalu tanpa kata..diam
Jika ada gerbang cahaya yang bisa dimasuki, sekedar beristirah menghela nafas sesaat
Menuai peluh yang menderai, mengenalkan diri sambil menukar sedikit persediaan kelana, dengan air surga dari kendi cintamu
Dan kembali beku semenjak jiwamu bertafakur tak henti pada senja temaram
Diiringi musik pepohonan lengang mendendang sejuta pertanyaan
Ketika gugur daun-daun berhimpitan di udara seakan memberi isyarat cinta yang tak berujung
Sajak lara yang terpahat dengan tinta air matamu yang memahat pada setiap sujud sunyimu pada cinta sakral yang engkau ingkari
Izinkan ku tanam mawarmu di taman mimpi
Dimana setiap jengkal kelopak yang terbuka adalah matahari dan setiap putik sari yang menjuntai adalah tarian surgawi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar