FP Kursi Bonceng Anak

Rabu, 15 Juni 2016

APA YANG KAU SOMBONGKAN...????

Ketika bertemu dengan orang yang kita kenal dan tidak menegor atau pura-pura tidak kenal, maka kita menyebutnya orang yang sombong. Ketika ada orang yang suka berbicara besar serta memamerkan keberhasilan-keberhasilan yang diraihnya, maka kita menyebutnya orang yang sombong. Orang kaya yang tidak mau bergaul dengan orang miskin juga biasanya disebut sebagai orang yang sombong. Kesombongan-kesombongan seperti ini memang sangat mudah kita ketahui, tetapi sesungguhnya sifat sombong bisa bersembunyi jauh didalam hati dan tidak langsung kelihatan.

Sifat sombong, takabur dan tinggi hati selalu beranjak dari assumsi bahwa dirinya memiliki kelebihan, keistimewaan, keunggulan dan kemuliaan ketika dihadapkan pada kepemilikan orang lain. Kesombongan yang berawal dari perasaan lebih atas orang lain, yang selanjutnya memunculkan sikap takabur, dan dari sana lalu timbul sikap gampang menganggap rendah orang lain adalah awal dari kerusakan tatanan sosial masyarakat.

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Wahai Sobat, diri ini laksana setitik debu yang berterbangan, tak ada daya bila dibandingkan dengan luasnya alam semesta. Maka janganlah sekali-kali menyimpan rasa sombong walau hanya sebesar biji sawi (atom) pun, karena hal itu akan menghalangi kita tuk merasakan indahnya nikmat dan rahmat Allah Subhanahu Wata'ala dalam keabadian surga-Nya.

Wahai Sobat, kesombongan adalah jubah kebesaran yang tidak selayaknya dimiliki oleh seorang makhluk seperti kita, karena memang kita tercipta sebagai seorang hamba, hanya seorang hamba yang memiliki kelemahan yang tak terhingga. Ingatlah sesungguhnya tujuan keberadaan kita disini tiada lain hanya untuk beribadah dan menyampaikan pesan keislaman kita sebagai rahmat bagi sekalian alam, dan segala sesuatu yang kita lakukan haruslah memiliki dasar atas penghambaan diri kepada-Nya.

Wahai Sobat, apa yang kita miliki sesungguhnya tidak akan pernah abadi, karena keabadian hanyalah kemutlakan bagi-Nya. Setiap nafas yang kita hirup akan memiliki pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Setiap detak jantung yang kita lalui akan menanyakan apa yang telah kita lakukan selama ia berdetak. Jika kita dianugrahkan sebuah kelebihan, maka hal itu tidaklah menjadi pembeda atas diri kita dihadapan-Nya, karena memang yang akan membedakan setiap hamba dari hamba lainnya hanyalah tingkat ketaatan dan ketakwaan kepada-Nya. Raih dan raihlah kesempatan kita untuk melakukan yang terbaik dalam hidup kita dengan dasar ibadah kepada-Nya.

Wahai Sobat, meskipun kita diberikan oleh Allah suatu kelebihan yang mungkin tak dimiliki oleh orang disekitar kita, lantas janganlah hal itu menjadikan kita berlaku dan membanggakannya secara berlebihan, karena hal itu sangatlah tidak disenangi oleh Sang Pencipta dan Pemberi Amanah atas kelebihan yang kita miliki.

Wahai Sobat, senantiasalah berbagi nasehat kepada sesama, karena itu akan menjadi bekalan amal jariyah yang tak terputus bagi kita kelak, meskipun kita telah tiada di kehidupan ini. Janganlah merasa malu tuk menjalankan perintah-Nya, karena rasa malu itu hanya akan menjauhkan kita dari ridha-Nya. Janganlah bersikap angkuh ketika kabar akan kebaikan dari firman-Nya datang menghampiri kita, karena itu akan mendekatkan kita kepada laknat-Nya.

Wahai Sobat, senantiasalah menampilkan mimik wajah terbaikmu ketika berhadapan dengan orang disekitarmu, dan janganlah sekali-kali engkau menampilkan wajah masam, acuh, bahkan wajah marah yang penuh dengan kesombongan, karena hal itu akan menjauhkanmu dari indahnya rahmat Allah di dalam sebuah silaturahim.

Wahai Sobat, janganlah berkata dengan perkataan yang tidak disenangi oleh lawan bicaramu, dan janganlah pula engkau berkata dengan intonasi atau nada yang dapat mengganggu orang disekitarmu, karena itu mungkin akan membuat sebagian hati dari orang disekitarmu merasa risih bahkan terganggu bila mendengarkanmu, bahkan mungkin akan memunculkan fitnah dan prasangka buruk terhadap sifatmu. Maka senantiasalah bersantun dalam bicaramu dan jagalah perkataanmu.

Wahai Sobat, jadikanlah diri kita sebagai hamba yang senantiasa bersyukur atas apa yang kita miliki, atas apa yang telah Allah anugrahkan kepada kita. Sungguh Allah sangat mencintai orang-orang yang selalu bersyukur kepadanya, bahkan akan melimpahkan kenikmatan yang tak terhingga kiranya. Namun Sobat, janganlah sekali-kali nikmat yang Allah beri menjadikan diri kita lupa tuk bersyukur atasnya, dan hanya berlaku khilaf dan larut dengan semua perkara kesenangan dunia tampa mengucap syukur dan ingat bahwasanya apa yang diberi mestilah berorientasi pada ketaatan kepada-Nya. Ketahuilah sungguh Allah sangat membenci hal yang demikian, bila kita tidak dengan segera menyadari dan memohon ampun kepada-Nya, maka sungguh azab Allah sangatlah pedih.

Wahai Sobat, akhir kata sungguh belumlah pula layak diri ini menasehatkan kebaikan-kebaikan kepada semua, karena memang diri ini belumlah sebaik perkataan yang dipunya, bahkan mungkin nasehat ini lebihlah tepat tertuju pada diriku sendiri, namun setidaknya diri ini telah sedikit menyampaikan kebaikan, bilamana kali ini Sobat tiada besepakat, maka sungguh kewajibanku telah tertunai sudah, dan sungguh tak ada pemaksaan dalam keyakinan keislaman kita.

”Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [Luqman:18]

Dari Ibn Mas’ud, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk sorga, seseorang yang di dalam hatinya ada sebijih atom dari sifat sombong”. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw: “Sesungguhnya seseorang menyukai kalau pakainnya itu indah atau sandalnya juga baik”. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt adalah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain” [HR Muslim]

Dari tulisan di atas jelas bahwa tidak ada alasan bagi manusia untuk bersikap sombong. Ancaman neraka bagi orang yang sombong meski hanya sekecil atom hendaknya membuat kita menjadi orang yang rendah hati.

HARTA TIDAK AKAN DIBAWA MATI

Pengertian harta ialah apa saja yang dimiliki oleh manusia. " Sebaik-baiknya harta ialah yang berada pada orang yang sholeh." (HR. Bukhari dan Muslim). Harta yang berkah adalah harta yang disenangi Allah, tidak harus banyak, sedikit tapi berkah lebih baik dari pada yang banyak tetapi tidak berkah. Untuk mendapatkan keberkahan harta harus halal, karena Allah tidak mungkin memberkahi harta yang haram.

Pada dasarnya harta mempunyai sifat yang saling bertolak belakang. Kadang-kadang dapat menyelamatkan pemiliknya, namun tak sedikit pula mencelakakan. Oleh sebab itu Islam telah mengatur bagaimana caranya seorang muslim dapat memanfaatkan harta yang dimilikinya itu agar berguna bagi kehidupan dunia dan akhirat. Belumlah lengkap jika harta itu hanya dinikmati untuk kepentingan duniawi dan sama sekali tidak berpengaruh pada kehidupan akhirat. Keduanya harus mendapat porsi yang seimbang.

Harta bukanlah suatu tujuan hidup. Bukan suatu sebab untuk mencapai kebahagiaan. Kalau seseorang menempatkan harta sebagai tujuan hidup dan menganggap segalagalanya, maka ia akan sering mendapatkan kesulitan daripada kedamaian hati.

Tujuan hidup adalah melaksanakan suatu kewajiban-kewajiban. Adapun harta benda yang kita miliki merupakan sarana untuk mendukung pelaksanaan kewajiban-kewajiban itu. Kita beribadah perlu harta. Orang tak akan bisa membangun masjid, menyantuni yatim piatu, berzakat dan bersedekah dan berangkat haji tanpa didukung oleh sarana harta benda.

Kadang-kadang orang menjadi tergila-gila oleh harta benda. Ia membanting tulang dan memeras keringat, tak kenal siang atau malam, tak kenal kawan atau lawan asal tujuannya tercapai. Kalau harta sudah didapat, Ia ingin lebih banyak lagi... dan ingin terus bertambah. Kesibukannya memburu harta membuat dirinya lupa terhadap kewajiban. Ibadahnya menjadi malas. Bahkan hatinya menjadi kikir. Harta yang terkumpul sangat dicintainya sehingga enggan mengeluarkan sedekah atau berzakat. Orang-orang yang demikian ini justru menjadi budak Hartanya sendiri.

Sangatlah beruntung orang kaya yang mampu mengendalikan harta kekayaannya. Dimanfaatkan untuk jalan kebaikan, gemar bersedekah, berzakat, menunaikan ibadah haji, infak, menyantuni yatim piatu dan sebagainya. Semakin banyak hartanya semakin sering pula ia bersyukur kepada ,Allah. Ibadahnya pun menjadi lebih tekun. Orang-orang yang demikian ini sadar kalau harta yang didapatkan semata-mata karena kemurahan Allah sehingga dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Dalam kitabnya, Al Maal Fil Islam, DR. Muhammad Mahmud Bably berpendapat bahwa harta tercela menurut Islam yaitu harta yang dijadikan obyek tujuan, dan bagi pemilik harta menjadikan harta itu sebagai perlindungan terhadap harta yang ditimbunnya atau yang disembunyikannya. Kemudian menahan terhadap orang lain dan pemanfaatan harta yang seharusnya beredar dari tangan yang satu ke tangan lainnya. Sehingga akan timbul sifat kikir atau memejamkan mata. Sebagaimana pula agama Islam melarang sifat yang berlebih-lebihan dan sifat mubadzir, dan Islam mengajak kepada sifat cukup atau seimbang dalam segala hal.

Allah berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir tetapi (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Oleh sebab itu untuk mendapatkan rejeki yang halal, harta yang barokah dan terus bertambah maka mulai sekarang kita harus berhati-hati dalam berikhtiar. Mencari, nafkah atau rejeki itu gampang-gampang susah. Kadang-kadang seseorang sudah berhati-hati, namun suatu ketika Ia lengah sehingga memungut harta yang tidak halal, atau cara mencarinya melanggar syariat Islam.

Sesungguhnya harta yang baik adalah jika diperoleh dari cara yang halal dan dimanfaatkan menurut tempatnya. Sebuah hadis riwayat lbnu Umara ra. dijelaskan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Dunia itu bagaikan tumbuh tumbuhan yang menarik. Barangsiapa yang mencari harta dunia dari harta yang halal, kemudian dibelanjakan sesuai dengan haknya, maka Allah Taala akan memberi pahala dan akan dimasukkan ke surga. Dan barangsiapa yang mencari harta dunia, bukan dari harta yang halal dan dibelanjakan bukan pada haknya, maka Allah akan menempatkan ke dalam tempat yang hina. Dan banyak orang yang ambisi dalam mencari di jalan Allah dan Rasulnya yang masuk ke dalam api neraka pada hari Kiamat.”

Harta itu pada hakikatnya halal. Namun bisa saja berubah menjadi tercela dan mencelakakan pemiliknya. Sebab jika seseorang mencarinya dengan cara yang tidak halal, maka kedudukan harta itu menjadi haram. Apabila harta haram itu dimakan maka sari-sari makanan akan bercampur menjadi darah. Kalau sudah bercampur dengan darah dan setiap saat mengalir ke sekujur tubuh, maka sulitlah seseorang untuk mensucikan sesuatu yang haram itu. Pada akhirnya kelak di akhirat akan menjadi siksaan baginya.

Perlulah disadari bahwa sesungguhnya harta itu pada dasarnya merupakan sarana dan ladang bagi kehidupan akhirat. Barangsiapa yang mendapatkannya dengan cara halal, lalu dimanfaatkan untuk kebaikan, misalnya menafkahi keluarga, sebagian disisihkan untuk fi sabilillah, maka harta akan menjadi sangat bermanfaat. Kelak akan menjadi penolong di akhirat.

Tak sedikit pula orang yang secara berlebih-lebihan beramal sedekah. Ia mendapatkan harta dan cara yang tidak halal, kemudian terkumpul dan menjadi kaya. Jika berzakat diundangnya wartawan untuk mengekspos amalannya itu. Jika menyumbang pembangunan masjid, ia berharap panitia mengumumkannya. Lalu masyarakat memuji-mujinya sebagai orang yang sangata dermawan. Dan ia merasa sangat puas mendengar pujian itu. Maka amalan dan penggunaan harta seperti itu sangat dicela oleh Allah. Selain cara mendapatkan harta itu tidak halal, hatinya juga dicemari oleh riya’, mengharap pujian dari sesama manusia. Itulah yang dimaksudkan dalam hadis bahwa banyak orang yang ambisi mencari jalan Allah namun yang didapatkan hanyalah api neraka.

Harta menurut pandangan Islam merupakan suatu kebaikan; bukan suatu keburukan. Ada sebagian golongan orang yang menilai bahwa harta dunia itu hanyalah menjadi penghalang bagi amal ibadah Mereka Kemudian menghindarinya. Berpakaian compangcamping makan hanya sesuap. Ia lebih banyak berpuasa dan sama sekali tidak memiliki harta yang disimpannya Orang-orang “sufi” menilai lain terhadap harta benda itu sehingga mereka selalu mengaggap sebagai suatu keburukan. Padahal sebenarnya harta benda itu merupakan suatu kebajkan.

Orang-orang yang lemah iman akan menilai, hartanya dengan angka matematika. Mereka hanya menggunakan logika; akalnya. Padahal akal manusia itu tidak menjangkau ilmu dan kehendak Allah. Mereka mengira dengan berperilaku kikir, hartanya akan awet dan tidak berkurang Mereka bekerja keras membanting tulang. Dengan semakin rajin bekerja, hartanya semakin bertambah Akhirnya ia menjadi kikir sekali. Sebab dengan bersikap kikir dia yakin hartanya akan terpelihara Namun jika dibuat untuk bersedekah atau dikeluarkan untuk zakat, menurut perhitungan matematika hartanya akan berkurang.

Mereka lupa bahwa harta atau rejeki itu bukan hanya semata-mata karena jerih payahnya Banyak orang yang bekerja membanting tulang, tetapi yang didapat hanya Sedikit. Ada pula yang bekerja dengan ringan, tanpa mengeluarkan keringat namun kekayaannya semakin banyak. Jadi Allahlah yang sangat berperan dalam memberi harta itu. Manusia hanya berikhtiar saja. Mereka tidak menyadari bahwa harta yang dikeluarkan untuk sedekah itu sesungguhnya tidaklah berkurang, melainkan terus bertambah. Secara logika, hal yang demikian ini tidak dapat dijangkau oleh akal manusia Namun kenyataannya, orang-orang yang gemar bersedekah bukan bertambah miskin, namun hartanya semakin banyak. Orang-orang yang mau berpikir dan punya kadar keimanan tinggi, tentu akan menggunakan harta yang menjadi miliknya itu secara benar. Rasulullah saw, bersabda, “Hanya ada dua hal yang tidak termasuk sifat dengki, yaitu seorang yang diberi harta kemudian terdorong untuk menunaikan secara benar. Dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah kemudian ia menghukumi dengan ilmunya serta mengajarkannya.” HR. Bukhari.

Orang yang tergila-gila terhadap harta benda, menganggap bahwa harta itu adalah segala-galanya. Kecintaannya mengalahkan anak dan istrinya. Bahkan demi harta, tak Sedikit orang mengorbankan akidahnya. Tepatlah jika Allah berfirman bahwa harta benda itu sesungguhnya adalah perhiasan kehidupan dunia bagi orang-orang yang tertipu dan bagi yang suka menjadi budakharta itu sendiri dan mereka yang melupakan perbuatan demi akhirat. Dalam surat Al-Kahfi ayat 46 dijelaskan, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.”

Banyak ayat-ayat di dalam Al-Quran yang menyinggung masalah kesenangan manusia terhadap harta benda. Karena mereka tergila-gila sehingga lupa dan keluar dari tujuan hidup yang sebenarnya. Mereka terlena, mengira dunia adalah kehidupan yang penuh dengan kesenangan-kesenangan. Mereka tidak ingat lagi kalau ada kampung yang lebih kekal yaitu akhirat. Mereka terlena jika kelak ada surga dan neraka. Surga tempat kebahagiaan yang kekal dan neraca tempat siksaan yang tiada berakhir.

Rabu, 18 Mei 2016

jangn lupa bahagia

Kawan...
Disaat kita memakai jam tangan seharga Rp 50.000,- atau Rp 500.000.000,-, kedua jam itu menunjukkan waktu yg sama.
Ketika kita membawa tas atau dompet seharga Rp 50.000,- atau Rp 500.000.000,-, keduanya sama2 dapat membantumu membawa sebagian barang/uang.
Waktu kita tinggal di rumah seluas 50 m2 atau 5.000 m2, kesepian yg kita alami tetaplah sama.
Ketika kita terbang dengan first class atau ekonomi class, maka saat pesawat terbang jatuh maka kita pun ikut jatuh.
Kawan..
Kebahagiaan sejati bukan datang dari harta duniawi.
Jadi ketika kita memiliki pasangan, anak, saudara, teman dekat, teman baru dan lama...
Lalu kita ngobrol, bercanda, tertawa, bernyanyi, bercerita tentang berbagai hal, berbagi suka dan duka- itulah kebahagiaan sesungguhnya.
Hal penting yang patut di renungkan dalam hidup :
1. Jangan mendidik anak mu untuk terobsesi menjadi kaya. Didiklah mereka menjadi bahagia. Sehingga saat mereka tumbuh dewasa mereka menilai segala sesuatu bukan dari harganya.
2. Kata2 yg terbaik di Inggris :
"Makan makananmu sebagai obat. Jika tidak, kamu akan makan obat2an sebagai
makanan."
3. Seseorang yg mencintaimu tidak akan pernah meninggalkanmu karena walaupun ada 100 alasan untuk menyerah, dia akan menemukan 1 alasan untuk bertahan.
4. Banyak sekali perbedaan antara "manusia & menjadi manusia"
Hanya yg bijak yang mengerti tentang itu.
5. Hidup itu antara
"B" birth (lahir) dan "D" death (mati),
diantara nya adalah ada "C" choice (pilihan) hidup yang kita jalani, keberhasilannya ditentukan oleh setiap pilihan kita.
Kawan...
Jika kamu mau berjalan cepat, Jalanlah sendirian. Tetapi Jika kamu ingin berjalan jauh, jalanlah bersama sama.
6. Ada 6 dokter terbaik,
1. Keluarga
2. Istirahat
3. Olah raga
4. Makan yg sehat
5. Teman
6. Tertawa
Mari pelihara semua itu dalam semua tingkatan kehidupan..
Bismillah..

Minggu, 24 April 2016

Disini dan TAK Meninggalkanmu

Aku tak pernah berlari meninggalkanmu
Melangkah menjauhi pun tak pernah terlintas
Aku masih disini…. Aku masih ada…
Namun sebait pun kini tak sempat lagi kubuat

Setiap hari kuhanya bisa berkata pada hati
Besok mungkin dapat kuluangkan waktu lagi
Tuk menulis tentang hati…
Dalam sebentuk puisi

Nyatanya aku tak pernah sempat
Ragaku s’lalu saja terlebih dahulu penat
Sehingga asa dan rasa tak pernah sempat
Dapatkan waktu yang tepat untuk puisi-puisi baru kubuat

Hingga sekali lagi di pagi ini
Kerinduan pada puisi kembali menjadi
Curahan hatiku dalam sebentuk puisi
Semoga esok aku bisa segera kembali

Minggu, 10 April 2016

Hanya DIA yang tau



Tiada insan didunia yang tidak mendapat ujian
Dan tiada yang terlepas dari cobaan
Karna segala ujian adalah ketentuanNYA
Yang harus kita lalui dengan kesabaran

Menghadapinya butuh keikhlasan
Agar Sang Maha Tau memberikan kemudahan
tak peduli seberapa kerasnya kita berusaha
Hanya DIA yang tau dan yang pantas bagi umatNya

Hidup terus berjalan walau cobaan datang bergantian
Maka, bermuhasabahlah di setiap kesempatan
Dan Waktu yang hilang tidak perlu kita risaukan
Ingatlah bahwa Allah bersama orang-orang beriman

Ya Allah Ampunilah kami dari segala dosa-dosa
Yang telah kami lakukan saat khilaf atau pun lupa
Karna kami hanyalah hambamu yang tiada daya
Yang selalu mengharap rahmatmu didunia yang fana

Senin, 04 April 2016

GoresaN



jika sebuah cinta...
berawal dari rasa suka
menjadi sayang
semakin mengasihi
dan semakin mencintai..

dalam sebuah kertas...
tertera sebuah kata
menjadi sebuah kalimat
terbentuknya sebuah paragraf
menjadi sebuah cerita

kau ukir kata-kata disebuah kertas
sebuah kertas yang begitu indah
kau nyanyikan syair-syair yang begitu merdu
indahnya tak dapat ku terka
rintihan mu hilangkan sepiku
pesona bebaskan jiwa ragaku

wahai sang pujangga...
kau membuat hidupku lebih bermakna
lebih menyadari apa yang telah terjadi
dan kau slalu membuat ku tenang disaat apapun
kau memang sang pujangga
sang pujangga yang berhati mulia
namamu slalu ku kenang dalam hatiku yang paling dalam

Rabu, 30 Maret 2016

DiingaT

Imam Al Ghazali berkata:
Yang singkat itu - "waktu"
Yang menipu itu - "dunia"
Yang dekat itu - "kematian"
Yang besar itu - "hawa nafsu"
Yang berat itu - "amanah"
Yang sulit itu - "ikhlas"
Yang mudah itu - "berbuat dosa"
Yang susah itu - "sabar"
Yang lupa itu - "bersyukur"
Yang membakar amal itu - "mengumpat"
Yang ke neraka itu - "lidah"
Yang berharga itu - "iman"
Yang mententeramkan hati itu - "teman sejati"
Yang ditunggu Allah SWT itu -"TAUBAT".

Selasa, 29 Maret 2016

U N I K - Renungan


Renungan
.
.
.
Seringkali yang dikejar-kejar menjauh
Yang tak disengaja pun mendekat
Yang merasa sudah pasti menjadi ragu
Yang awalnya diragukan menjadi pasti
Yang ternilai jadi biasa
Yang tak dinilai jadi bernilai
Yang selalu diimpikan, tak berujung pernikahan
Yang tak pernah terpikirkan, bersanding di pelaminan  
Maka, percayalah.. 
Jodoh itu bukan masalah seberapa lama kau mengenalnya
Seberapa akrab kau dengan orang tuanya 
Atau seberapa sering kau komunikasi dengannya 
Tapi, seberapa yakin kau pada ketentuanNya
Seberapa besar kepasrahanmu dengan takdirNya
Seberapa besar kau merayuNya
Seberapa semangat kau menyempurnakan ikhtiar untuk mendapatkannya
Seberapa ikhlas saat kau gagal mendapatkannya, lalu digantikan dengan yang lebih baik menurut versiNya

K E H I D U P A N

Dari air kita belajar ketenangan
Dari batu kita belajar ketegaran
Dari tanah kita belajar kehidupan
Dari kupu-kupu kita belajar merubah diri
Dari padi kita belajar rendah hati 
Dari Allah kita belajar kasih sayang yang sempurna
Melihat keatas memperoleh semangat untuk maju
Melihat kebawah bersyukur atas semua yang ada
Melihat kesamping semangat kebersamaan
Melihat kebelakang sebagai pengalaman berharga
Melihat ke dalam untuk introspeksi diri
Melihat ke depan untuk jalan lebih baik
Dari kegagalan kita belajar keberhasilan
Dari kekalahan kita belajar kemenangan
Dari kejujuran kita belajar kesuksesan
INILAH KEHIDUPAN... 
SUBHANALLAH...

Rabu, 23 Maret 2016

DenganMU



Malam lalu mata tak mau terpejam juga..
Letih yang ku rasa, tak jua membuat mata menjadi lelah..
Bukan……bukan mata yang menjadi lelah, tapi “HATI”..
Segala urusan duniawi seakan mengalahkan keinginan untuk lebih mendekat kepada Yang Maha Suci..

“Ya, Allah tunjukkan aku kembali kejalanMu, jalan yang penuh dengan ketenangan dan kelembutanMu”

“Berdzikir aku, diiringi rinai gerimis menjelang pagi. Kuadukan semua masalah hidup, kepada sang Pemberi Hidup (Ya, Almuhyii), kepada sang Pemberi Kemuliaan  (Ya, Al Mu’izzu), kepadaMu yang Maha Pemberi Rezeki (Ya, Ar Razzaaqu)

Dalam sekejap segala kegundahan larung bersama air mata yang terurai..
Diatas sajadah ini, di dalam tahajudku, di dalam sujudku…. kudapatkan kedamaian..

Hambamu yang marasa sederhana, kini merasa kaya akan karuniaMu. Hambamu yang merasa fana, kini merasa berhias mutiara kasihMu. Hambamu yang dhuafa, Kini merasa penuh dengan rahmatMu..
Ketika kulipat sajadah sehabis shalat Shubuh.. Semangat untuk terus berikhtiar semakin menggebu.. Sebuah rahasiaMu telah terkuak di pagi ini..