Pengertian
harta ialah apa saja yang dimiliki oleh manusia. " Sebaik-baiknya harta
ialah yang berada pada orang yang sholeh." (HR. Bukhari dan Muslim).
Harta yang berkah adalah harta yang disenangi Allah, tidak harus banyak,
sedikit tapi berkah lebih baik dari pada yang banyak tetapi tidak
berkah. Untuk mendapatkan keberkahan harta harus halal, karena Allah
tidak mungkin memberkahi harta yang haram.
Pada
dasarnya harta mempunyai sifat yang saling bertolak belakang.
Kadang-kadang dapat menyelamatkan pemiliknya, namun tak sedikit pula
mencelakakan. Oleh sebab itu Islam telah mengatur bagaimana caranya
seorang muslim dapat memanfaatkan harta yang dimilikinya itu agar
berguna bagi kehidupan dunia dan akhirat. Belumlah lengkap jika harta
itu hanya dinikmati untuk kepentingan duniawi dan sama sekali tidak
berpengaruh pada kehidupan akhirat. Keduanya harus mendapat porsi yang
seimbang.
Harta
bukanlah suatu tujuan hidup. Bukan suatu sebab untuk mencapai
kebahagiaan. Kalau seseorang menempatkan harta sebagai tujuan hidup dan
menganggap segalagalanya, maka ia akan sering mendapatkan kesulitan
daripada kedamaian hati.
Tujuan
hidup adalah melaksanakan suatu kewajiban-kewajiban. Adapun harta benda
yang kita miliki merupakan sarana untuk mendukung pelaksanaan
kewajiban-kewajiban itu. Kita beribadah perlu harta. Orang tak akan bisa
membangun masjid, menyantuni yatim piatu, berzakat dan bersedekah dan
berangkat haji tanpa didukung oleh sarana harta benda.
Kadang-kadang
orang menjadi tergila-gila oleh harta benda. Ia membanting tulang dan
memeras keringat, tak kenal siang atau malam, tak kenal kawan atau lawan
asal tujuannya tercapai. Kalau harta sudah didapat, Ia ingin lebih
banyak lagi... dan ingin terus bertambah. Kesibukannya memburu harta
membuat dirinya lupa terhadap kewajiban. Ibadahnya menjadi malas. Bahkan
hatinya menjadi kikir. Harta yang terkumpul sangat dicintainya sehingga
enggan mengeluarkan sedekah atau berzakat. Orang-orang yang demikian
ini justru menjadi budak Hartanya sendiri.
Sangatlah
beruntung orang kaya yang mampu mengendalikan harta kekayaannya.
Dimanfaatkan untuk jalan kebaikan, gemar bersedekah, berzakat,
menunaikan ibadah haji, infak, menyantuni yatim piatu dan sebagainya.
Semakin banyak hartanya semakin sering pula ia bersyukur kepada ,Allah.
Ibadahnya pun menjadi lebih tekun. Orang-orang yang demikian ini sadar
kalau harta yang didapatkan semata-mata karena kemurahan Allah sehingga
dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Dalam
kitabnya, Al Maal Fil Islam, DR. Muhammad Mahmud Bably berpendapat
bahwa harta tercela menurut Islam yaitu harta yang dijadikan obyek
tujuan, dan bagi pemilik harta menjadikan harta itu sebagai perlindungan
terhadap harta yang ditimbunnya atau yang disembunyikannya. Kemudian
menahan terhadap orang lain dan pemanfaatan harta yang seharusnya
beredar dari tangan yang satu ke tangan lainnya. Sehingga akan timbul
sifat kikir atau memejamkan mata. Sebagaimana pula agama Islam melarang
sifat yang berlebih-lebihan dan sifat mubadzir, dan Islam mengajak
kepada sifat cukup atau seimbang dalam segala hal.
Allah
berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka
tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir tetapi (pembelanjaan itu)
di tengah-tengah antara yang demikian.
Oleh
sebab itu untuk mendapatkan rejeki yang halal, harta yang barokah dan
terus bertambah maka mulai sekarang kita harus berhati-hati dalam
berikhtiar. Mencari, nafkah atau rejeki itu gampang-gampang susah.
Kadang-kadang seseorang sudah berhati-hati, namun suatu ketika Ia lengah
sehingga memungut harta yang tidak halal, atau cara mencarinya
melanggar syariat Islam.
Sesungguhnya
harta yang baik adalah jika diperoleh dari cara yang halal dan
dimanfaatkan menurut tempatnya. Sebuah hadis riwayat lbnu Umara ra.
dijelaskan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Dunia itu bagaikan
tumbuh tumbuhan yang menarik. Barangsiapa yang mencari harta dunia dari
harta yang halal, kemudian dibelanjakan sesuai dengan haknya, maka Allah
Taala akan memberi pahala dan akan dimasukkan ke surga. Dan barangsiapa
yang mencari harta dunia, bukan dari harta yang halal dan dibelanjakan
bukan pada haknya, maka Allah akan menempatkan ke dalam tempat yang
hina. Dan banyak orang yang ambisi dalam mencari di jalan Allah dan
Rasulnya yang masuk ke dalam api neraka pada hari Kiamat.”
Harta
itu pada hakikatnya halal. Namun bisa saja berubah menjadi tercela dan
mencelakakan pemiliknya. Sebab jika seseorang mencarinya dengan cara
yang tidak halal, maka kedudukan harta itu menjadi haram. Apabila harta
haram itu dimakan maka sari-sari makanan akan bercampur menjadi darah.
Kalau sudah bercampur dengan darah dan setiap saat mengalir ke sekujur
tubuh, maka sulitlah seseorang untuk mensucikan sesuatu yang haram itu.
Pada akhirnya kelak di akhirat akan menjadi siksaan baginya.
Perlulah
disadari bahwa sesungguhnya harta itu pada dasarnya merupakan sarana
dan ladang bagi kehidupan akhirat. Barangsiapa yang mendapatkannya
dengan cara halal, lalu dimanfaatkan untuk kebaikan, misalnya menafkahi
keluarga, sebagian disisihkan untuk fi sabilillah, maka harta akan
menjadi sangat bermanfaat. Kelak akan menjadi penolong di akhirat.
Tak
sedikit pula orang yang secara berlebih-lebihan beramal sedekah. Ia
mendapatkan harta dan cara yang tidak halal, kemudian terkumpul dan
menjadi kaya. Jika berzakat diundangnya wartawan untuk mengekspos
amalannya itu. Jika menyumbang pembangunan masjid, ia berharap panitia
mengumumkannya. Lalu masyarakat memuji-mujinya sebagai orang yang
sangata dermawan. Dan ia merasa sangat puas mendengar pujian itu. Maka
amalan dan penggunaan harta seperti itu sangat dicela oleh Allah. Selain
cara mendapatkan harta itu tidak halal, hatinya juga dicemari oleh
riya’, mengharap pujian dari sesama manusia. Itulah yang dimaksudkan
dalam hadis bahwa banyak orang yang ambisi mencari jalan Allah namun
yang didapatkan hanyalah api neraka.
Harta
menurut pandangan Islam merupakan suatu kebaikan; bukan suatu
keburukan. Ada sebagian golongan orang yang menilai bahwa harta dunia
itu hanyalah menjadi penghalang bagi amal ibadah Mereka Kemudian
menghindarinya. Berpakaian compangcamping makan hanya sesuap. Ia lebih
banyak berpuasa dan sama sekali tidak memiliki harta yang disimpannya
Orang-orang “sufi” menilai lain terhadap harta benda itu sehingga mereka
selalu mengaggap sebagai suatu keburukan. Padahal sebenarnya harta
benda itu merupakan suatu kebajkan.
Orang-orang
yang lemah iman akan menilai, hartanya dengan angka matematika. Mereka
hanya menggunakan logika; akalnya. Padahal akal manusia itu tidak
menjangkau ilmu dan kehendak Allah. Mereka mengira dengan berperilaku
kikir, hartanya akan awet dan tidak berkurang Mereka bekerja keras
membanting tulang. Dengan semakin rajin bekerja, hartanya semakin
bertambah Akhirnya ia menjadi kikir sekali. Sebab dengan bersikap kikir
dia yakin hartanya akan terpelihara Namun jika dibuat untuk bersedekah
atau dikeluarkan untuk zakat, menurut perhitungan matematika hartanya
akan berkurang.
Mereka
lupa bahwa harta atau rejeki itu bukan hanya semata-mata karena jerih
payahnya Banyak orang yang bekerja membanting tulang, tetapi yang
didapat hanya Sedikit. Ada pula yang bekerja dengan ringan, tanpa
mengeluarkan keringat namun kekayaannya semakin banyak. Jadi Allahlah
yang sangat berperan dalam memberi harta itu. Manusia hanya berikhtiar
saja. Mereka tidak menyadari bahwa harta yang dikeluarkan untuk sedekah
itu sesungguhnya tidaklah berkurang, melainkan terus bertambah. Secara
logika, hal yang demikian ini tidak dapat dijangkau oleh akal manusia
Namun kenyataannya, orang-orang yang gemar bersedekah bukan bertambah
miskin, namun hartanya semakin banyak. Orang-orang yang mau berpikir dan
punya kadar keimanan tinggi, tentu akan menggunakan harta yang menjadi
miliknya itu secara benar. Rasulullah saw, bersabda, “Hanya ada dua hal
yang tidak termasuk sifat dengki, yaitu seorang yang diberi harta
kemudian terdorong untuk menunaikan secara benar. Dan seseorang yang
diberi ilmu oleh Allah kemudian ia menghukumi dengan ilmunya serta
mengajarkannya.” HR. Bukhari.
Orang
yang tergila-gila terhadap harta benda, menganggap bahwa harta itu
adalah segala-galanya. Kecintaannya mengalahkan anak dan istrinya.
Bahkan demi harta, tak Sedikit orang mengorbankan akidahnya. Tepatlah
jika Allah berfirman bahwa harta benda itu sesungguhnya adalah perhiasan
kehidupan dunia bagi orang-orang yang tertipu dan bagi yang suka
menjadi budakharta itu sendiri dan mereka yang melupakan perbuatan demi
akhirat. Dalam surat Al-Kahfi ayat 46 dijelaskan, “Harta dan anak-anak
adalah perhiasan kehidupan dunia.”
Banyak
ayat-ayat di dalam Al-Quran yang menyinggung masalah kesenangan manusia
terhadap harta benda. Karena mereka tergila-gila sehingga lupa dan
keluar dari tujuan hidup yang sebenarnya. Mereka terlena, mengira dunia
adalah kehidupan yang penuh dengan kesenangan-kesenangan. Mereka tidak
ingat lagi kalau ada kampung yang lebih kekal yaitu akhirat. Mereka
terlena jika kelak ada surga dan neraka. Surga tempat kebahagiaan yang
kekal dan neraca tempat siksaan yang tiada berakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar